Cara Membantu Anak Fokus Belajar di Rumah, Meski Rumah Ramai

Cara Membantu Anak Fokus Belajar di Rumah, Meski Rumah Ramai

Kalimat yang paling sering saya dengar dari orang tua lain adalah "anak saya tidak bisa fokus". Saya juga dulu mengatakan hal yang sama, sampai satu sore saya duduk dan benar-benar mengamati apa yang terjadi selama anak saya belajar.

Dalam dua puluh menit, dia berhenti tujuh kali. Dua kali karena adiknya lewat sambil bicara. Sekali karena televisi di ruang tengah tiba-tiba keras. Sekali karena saya sendiri yang bertanya "sudah sampai mana?". Sisanya karena dia bingung dengan soal dan tidak tahu harus bagaimana.

Dari tujuh gangguan itu, hanya satu yang benar-benar berasal dari dalam dirinya. Sisanya berasal dari lingkungan, termasuk dari saya.

Fokus anak memang pendek, dan itu normal

Ini yang harus diterima lebih dulu. Rentang konsentrasi anak usia SD memang tidak panjang. Anak kelas satu sampai dua biasanya bertahan sekitar sepuluh sampai lima belas menit. Kelas lima sampai enam mungkin dua puluh sampai tiga puluh menit. Setelah itu perhatiannya wajar menurun.

Jadi kalau kita meminta anak kelas tiga duduk diam mengerjakan tugas selama satu jam penuh, kita bukan sedang melatih fokus. Kita sedang meminta sesuatu yang di luar kemampuan usianya, lalu kecewa saat gagal.

Perubahan pertama yang saya lakukan adalah memotong waktu belajar menjadi blok-blok pendek. Dua puluh menit belajar, lima menit istirahat, lalu dua puluh menit lagi. Total waktunya sama, tapi hasilnya jauh berbeda.

Ruang belajar tidak harus bagus, cukup jelas

Saya sempat berpikir anak butuh meja belajar khusus di kamar sendiri. Padahal rumah kami kecil dan itu tidak mungkin. Ternyata yang dibutuhkan bukan ruang yang bagus, tapi ruang yang selalu sama.

Kami akhirnya memakai satu sisi meja makan. Setiap sore, sisi itu dikosongkan dari apa pun kecuali buku dan alat tulis yang sedang dipakai. Tempatnya selalu itu, jamnya selalu sama. Setelah dua minggu, anak duduk di situ tanpa perlu disuruh.

Beberapa hal yang saya singkirkan dari meja: gelas minum berwarna-warni, mainan kecil, buku pelajaran lain yang belum dipakai, dan ponsel siapa pun. Yang saya tambahkan cuma satu: lampu yang cukup terang.

Tugas yang jelas jauh lebih mudah difokusi

Anak sering terlihat tidak fokus padahal sebenarnya dia bingung. "Belajar Matematika" itu perintah yang kabur. Anak tidak tahu kapan itu selesai, jadi otaknya tidak punya alasan untuk masuk ke mode kerja.

"Kerjakan lima soal di halaman 24" adalah perintah yang jelas. Ada awal, ada akhir, ada rasa selesai di ujungnya. Sejak saya mengganti cara memberi instruksi, jumlah anak berhenti di tengah jalan turun drastis.

Cara menyusun tugas harian yang masuk akal ini saya bahas lebih detail di artikel "Cara Membuat Jadwal Belajar Anak SD di Rumah yang Realistis".

Dampingi, tapi jangan mengawasi terus-menerus

Ini kesalahan saya yang paling lama bertahan. Saya duduk di sebelah anak dan mengomentari hampir setiap langkah. Maksudnya membantu, tapi efeknya memecah konsentrasi terus-menerus.

Sekarang saya duduk di dekatnya sambil mengerjakan urusan saya sendiri, dan sepakat sejak awal: anak boleh bertanya kapan saja, tapi saya tidak akan menyela. Saya baru mengecek setelah satu blok waktu selesai.

Hasilnya anak jadi lebih berani mencoba dulu sebelum bertanya, dan itu justru keterampilan yang lebih penting daripada jawaban yang benar.

Cek kondisi tubuhnya sebelum menyalahkan fokusnya

Ada tiga hal yang hampir selalu jadi penyebab tersembunyi: anak lapar, anak lelah, atau anak kurang tidur.

Anak yang belajar tepat setelah pulang sekolah tanpa makan dan istirahat hampir pasti akan terlihat tidak fokus, dan itu bukan salahnya. Soal jeda pulang sekolah ini pernah saya tulis terpisah di artikel tentang anak yang kelelahan sepulang sekolah.

Anak yang kurang tidur juga akan sulit berkonsentrasi sepanjang hari, berapa pun rapinya jadwal belajar yang kita buat. Kalau anak sulit dibangunkan dan mengantuk terus, akar masalahnya ada di jam tidur, dan itu saya bahas di artikel "Anak Susah Bangun Pagi? Ini Cara Memperbaikinya Tanpa Drama".

Layar adalah lawan yang paling berat

Saya tidak akan berpura-pura ini mudah. Ponsel dan televisi memberi rangsangan yang jauh lebih cepat dan menyenangkan daripada buku tulis. Melawan itu dengan imbauan tidak akan berhasil.

Yang berhasil di rumah kami adalah aturan yang tidak dinegosiasikan setiap hari: selama blok belajar, semua ponsel di rumah, termasuk milik saya, ada di satu tempat di ruang lain. Bukan disembunyikan, tapi tidak ada di meja. Aturannya berlaku untuk semua orang, dan justru itu yang membuat anak menerimanya tanpa protes panjang.

Ukur dari kemajuan, bukan dari kesempurnaan

Setelah beberapa bulan, anak saya masih berhenti di tengah belajar. Bedanya sekarang mungkin dua kali dalam dua puluh menit, bukan tujuh. Dan dia kembali sendiri tanpa perlu diingatkan.

Itu yang saya anggap berhasil. Fokus bukan sesuatu yang tiba-tiba dimiliki anak setelah dinasihati. Itu dibangun dari lingkungan yang tenang, tugas yang jelas, tubuh yang cukup istirahat, dan orang tua yang mau berhenti menyela.

Baca juga 

Belum ada Komentar untuk "Cara Membantu Anak Fokus Belajar di Rumah, Meski Rumah Ramai"

Posting Komentar