Mendampingi PR Anak Tanpa Ikut Mengerjakan
Ada satu malam yang membuat saya sadar bahwa cara saya salah. Anak saya mengerjakan PR prakarya, dan pukul sembilan malam yang memegang gunting dan lem adalah saya. Anak duduk di sebelah, menonton, sesekali menunjuk. Hasilnya rapi. Besoknya dia dapat nilai bagus untuk pekerjaan yang bukan miliknya.
Saya tidak berniat curang. Saya cuma tidak tahan melihat dia lambat dan berantakan, dan saya ingin dia tidur tepat waktu. Tapi malam itu saya menyadari satu hal: setiap kali saya mengambil alih, saya sedang mengambil kesempatan belajarnya.
Kenapa orang tua akhirnya ikut mengerjakan
Hampir selalu karena tiga alasan yang sama. Waktu sudah mepet dan besok harus dikumpulkan. Anak sudah menangis dan kita ingin situasi cepat selesai. Atau kita malu kalau hasil anak terlihat jelek dibanding teman-temannya.
Ketiganya manusiawi. Tapi ketiganya juga menyelesaikan masalah malam ini dengan menciptakan masalah yang lebih besar bulan depan. Anak belajar bahwa kalau dia cukup lama kesulitan, orang tuanya akan turun tangan.
Aturan yang saya pakai sekarang: tangan anak, mulut saya
Ini aturan paling sederhana dan paling ampuh yang pernah saya pakai. Semua yang menyentuh kertas adalah tangan anak. Saya boleh bicara, bertanya, mengingatkan, tapi tidak boleh memegang pensil, gunting, atau kalkulator.
Awalnya berat. Hasilnya lebih jelek, lebih lama, dan lebih berantakan daripada sebelumnya. Tapi setelah beberapa minggu, kecepatannya naik sendiri, karena dia benar-benar mengerjakannya.
Ganti jawaban dengan pertanyaan
Saat anak bertanya "ini jawabannya apa", godaan terbesar adalah menjawab. Yang lebih berguna adalah melempar balik dengan pertanyaan pendek.
Beberapa yang paling sering saya pakai:
- "Soal ini mintanya apa? Coba baca ulang keras-keras."
- "Yang kamu sudah tahu dari soal ini apa saja?"
- "Kalau soal yang mirip kemarin, kamu kerjakan bagaimana?"
- "Coba kerjakan versi yang paling mudah dulu."
Sekitar setengah dari pertanyaan anak selesai hanya dengan membaca ulang soal dengan suara keras. Itu bukan karena dia tidak bisa, tapi karena dia membaca terlalu cepat sambil panik.
Tetapkan batas waktu, bukan batas kesempurnaan
Kami sepakat satu aturan: PR dikerjakan maksimal selama waktu yang wajar untuk usianya. Kalau lewat dari itu dan masih belum selesai, kami berhenti.
Yang belum selesai tidak saya kerjakan diam-diam. Anak menuliskan sendiri di buku bahwa dia mengerjakan sampai nomor sekian dan berhenti karena tidak paham. Awalnya saya khawatir dia akan ditegur guru. Yang terjadi justru sebaliknya: gurunya jadi tahu bagian mana yang belum dikuasai, dan itu informasi yang jauh lebih berguna daripada buku yang terisi penuh tapi bukan oleh anaknya.
Kalau PR rutin selalu melewati batas waktu wajar, biasanya masalahnya bukan pada PR itu, tapi pada jadwal harian yang terlalu padat atau waktu mulai yang terlalu malam. Cara menyusun jadwal yang masuk akal saya bahas di artikel "Cara Membuat Jadwal Belajar Anak SD di Rumah yang Realistis".
Periksa setelah selesai, bukan saat sedang berjalan
Dulu saya mengoreksi setiap nomor begitu anak menuliskannya. Efeknya dia berhenti berpikir dan mulai melirik wajah saya untuk mencari tahu apakah jawabannya benar.
Sekarang saya baru memeriksa setelah semuanya selesai, dan saya tidak menyebutkan nomor mana yang salah. Saya cuma bilang "ada dua yang perlu kamu cek lagi di halaman ini". Dia yang mencari. Proses mencari kesalahan sendiri itu justru bagian belajar yang paling berharga, dan itu yang selama ini saya rampas tanpa sadar.
Supaya anak bisa mengerjakan sendiri sampai selesai, kondisinya juga harus mendukung: meja yang tidak berantakan, tidak ada layar, dan tubuh yang tidak kelelahan. Bagian itu saya tulis terpisah di artikel "Cara Membantu Anak Fokus Belajar di Rumah".
Jangan perbaiki hasilnya supaya terlihat bagus
Ini yang paling sulit saya tahan. Tulisan miring, potongan tidak lurus, warna keluar garis. Setiap kali saya ingin merapikan sedikit, saya mengingatkan diri sendiri bahwa yang dinilai bukan hasilnya, tapi apa yang dipelajari anak sepanjang mengerjakannya.
Dan anak tahu bedanya. Anak yang membawa hasil karyanya sendiri, meski jelek, berjalan ke sekolah dengan cara yang berbeda dibanding anak yang membawa hasil karya orang tuanya.
Kapan boleh benar-benar membantu
Ada situasi di mana turun tangan itu wajar. Saat materinya memang belum pernah diajarkan di kelas dan anak benar-benar buntu. Saat tugasnya melibatkan alat yang berbahaya seperti pisau atau alat panas. Saat tugas memang dirancang untuk dikerjakan bersama orang tua.
Bedanya ada pada niat. Membantu supaya anak bisa melanjutkan itu mendampingi. Membantu supaya cepat selesai itu mengambil alih.
Yang berubah setelah setahun
Anak saya sekarang mengerjakan PR sendiri, dan saya biasanya cuma dipanggil dua atau tiga kali per malam. Hasilnya tidak selalu benar semua, dan tulisannya masih miring.
Tapi malam di rumah jadi jauh lebih tenang, dan yang lebih penting, dia percaya bahwa dia mampu menyelesaikan sesuatu tanpa saya. Itu nilai yang tidak muncul di rapor mana pun.
Belum ada Komentar untuk "Mendampingi PR Anak Tanpa Ikut Mengerjakan"
Posting Komentar