Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak Tanpa Iming-iming Hadiah

 

Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak Tanpa Iming-iming Hadiah

Saya pernah menjanjikan sepeda kalau nilai rapor anak saya bagus. Nilainya memang naik. Tapi semester berikutnya, pertanyaan pertama yang dia ajukan saat saya bicara soal belajar adalah "kalau nilaiku bagus, dapat apa?"

Saya baru sadar bahwa saya tidak sedang menumbuhkan minat belajar. Saya sedang membangun sistem transaksi, dan harga transaksinya akan naik terus.

Kenapa hadiah cepat kehilangan tenaga

Hadiah bekerja karena memberi alasan dari luar. Selama hadiahnya menarik, anak bergerak. Begitu hadiahnya biasa saja, atau begitu ada hal lain yang lebih menyenangkan, alasannya hilang.

Masalah yang lebih halus: hadiah mengirim pesan bahwa belajar itu hal tidak menyenangkan yang butuh kompensasi. Tidak ada orang tua yang menjanjikan hadiah supaya anak mau bermain.

Bukan berarti hadiah haram. Sesekali merayakan usaha keras itu wajar. Yang bermasalah adalah menjadikannya mesin penggerak utama.

Puji usahanya, bukan kepintarannya

Ini perubahan kecil yang efeknya paling besar di rumah kami.

Dulu saya bilang "pintar sekali anak Ayah". Sekarang saya bilang "kamu ngerjain yang nomor lima itu lama ya, tapi nggak nyerah". Yang pertama memuji sesuatu yang anak rasa tidak bisa dia kendalikan. Yang kedua memuji sesuatu yang bisa dia ulangi besok.

Anak yang terus dipuji pintar cenderung menghindari soal sulit, karena gagal berarti label pintarnya hilang. Anak yang dipuji atas usahanya justru lebih berani mencoba hal yang belum dia kuasai. Saya melihat sendiri perbedaannya dalam hitungan bulan.

Rasa mampu adalah bahan bakar yang sebenarnya

Anak tidak termotivasi oleh nasihat. Anak termotivasi oleh perasaan "aku bisa". Dan perasaan itu hanya muncul kalau dia pernah benar-benar menyelesaikan sesuatu sendiri.

Di sinilah cara kita mendampingi jadi penting. Setiap kali orang tua mengambil alih pekerjaan yang sebenarnya masih bisa diselesaikan anak, kita menghapus satu kesempatan dia merasa mampu. Batas antara mendampingi dan mengerjakan ini saya bahas panjang di artikel "Mendampingi PR Anak Tanpa Ikut Mengerjakan".

Mulailah dari tugas yang sedikit di bawah kemampuannya, supaya dia menang dulu beberapa kali. Rasa mampu itu menumpuk, dan tumpukan itu yang nanti dia pakai saat menghadapi materi yang sulit.

Rutinitas mengalahkan semangat

Semangat itu naik turun. Ada hari anak bergairah, ada hari dia tidak mau apa-apa. Kalau belajar hanya terjadi saat semangat sedang ada, maka sebagian besar hari akan kosong.

Yang membuat belajar tetap berjalan bukan motivasi, tapi kebiasaan. Jam yang sama, tempat yang sama, urutan yang sama. Setelah beberapa minggu, anak duduk dan mulai bekerja tanpa perlu dibujuk, karena tubuhnya sudah terbiasa, bukan karena hatinya sedang ingin.

Cara menyusun rutinitas ini ada di artikel "Cara Membuat Jadwal Belajar Anak SD di Rumah yang Realistis", sementara cara menjaga anak tetap bertahan selama sesi belajarnya ada di "Cara Membantu Anak Fokus Belajar di Rumah".

Hubungkan pelajaran dengan hal yang dia pedulikan

Anak saya tidak peduli pada perkalian. Tapi dia sangat peduli pada berapa lama uang jajannya akan habis kalau dia jajan setiap hari.

Sejak saya berhenti memisahkan pelajaran dari kehidupan sehari-hari, banyak hal jadi lebih mudah masuk. Menghitung kembalian saat belanja. Membaca aturan permainan yang dia suka. Menakar bahan saat membuat kue. Ini bukan trik mengajar, cuma menunjukkan bahwa yang dia pelajari memang dipakai orang.

Beri kendali sekecil apa pun

Motivasi tumbuh saat anak merasa punya suara. Kendali kecil sudah cukup: mau mengerjakan Matematika dulu atau Bahasa Indonesia dulu, mau belajar di meja makan atau di teras, mau istirahat lima menit sekarang atau nanti setelah satu halaman.

Hasil akhirnya sama, tetapi rasanya berbeda bagi anak. Dia bukan sedang disuruh, dia sedang memilih.

Cara bereaksi terhadap nilai jelek menentukan banyak hal

Saat anak membawa pulang nilai buruk, reaksi kita di sepuluh detik pertama akan diingat lebih lama daripada seluruh nasihat setelahnya.

Yang saya usahakan sekarang adalah bertanya lebih dulu, bukan menghakimi. "Menurut kamu bagian mana yang paling susah?" Lalu diam dan dengarkan. Anak yang tidak takut menunjukkan nilai jeleknya akan terus bercerita. Anak yang takut akan mulai menyembunyikan, dan saat itu kita kehilangan kesempatan membantu sama sekali.

Motivasi itu dirawat, bukan dinyalakan

Tidak ada satu kalimat yang tiba-tiba membuat anak cinta belajar. Yang ada cuma banyak hal kecil yang diulang: pujian yang mengarah pada usaha, tugas yang bisa dia selesaikan sendiri, rutinitas yang tidak bergantung pada suasana hati, dan orang tua yang tidak panik saat hasilnya jelek.

Anak saya sampai sekarang tetap lebih suka bermain daripada belajar, dan menurut saya itu wajar. Bedanya, sekarang dia duduk dan mulai mengerjakan tanpa saya perlu menawarkan apa pun sebagai gantinya. Itu sudah lebih dari cukup.

Belum ada Komentar untuk "Menumbuhkan Motivasi Belajar Anak Tanpa Iming-iming Hadiah"

Posting Komentar