Anak Sering Menunda-nunda? Ini Cara Mengajarkan Anak Menyelesaikan Tugas Tanpa Dipaksa
"Sebentar lagi, Bu."
"Nanti saja."
"Aku mau main dulu."
Kalimat seperti ini mungkin sudah sangat akrab bagi orang tua yang memiliki anak usia sekolah.
Diminta mandi, menunda. Disuruh merapikan mainan, masih ingin bermain. Waktunya belajar, tiba-tiba ada banyak alasan untuk melakukan hal lain.
Pada akhirnya orang tua mulai kehilangan kesabaran.
"Kalau tidak disuruh, tidak pernah dikerjakan!"
Situasi seperti ini memang melelahkan. Namun sebelum menganggap anak malas, ada baiknya orang tua melihat lebih jauh.
Anak belum tentu sengaja ingin membuat orang tua kesal. Bisa jadi ia belum memahami cara mengatur waktu, belum mampu memperkirakan berapa lama sebuah pekerjaan harus diselesaikan, atau merasa tugas yang diberikan terlalu berat.
Kebiasaan menyelesaikan tugas perlu dilatih.
Dan latihan tersebut tidak harus dilakukan dengan bentakan.
Apa yang Dimaksud dengan Kebiasaan Menunda?
Menunda berarti menangguhkan suatu pekerjaan meskipun pekerjaan tersebut sebenarnya perlu dilakukan.
Pada anak, kebiasaan menunda dapat terlihat dari berbagai situasi.
Misalnya:
terus bermain meskipun sudah waktunya belajar,
menunggu sampai malam untuk mengerjakan tugas,
baru mencari buku ketika sudah hampir berangkat sekolah,
menunda merapikan kamar,
atau selalu menunggu orang tua mengingatkan.
Sesekali menunda tentu merupakan hal yang wajar.
Yang menjadi perhatian adalah ketika anak hampir selalu membutuhkan dorongan dari orang lain untuk memulai dan menyelesaikan sesuatu.
Mengapa Anak Suka Menunda?
1. Tugas Terasa Membosankan
Bagi anak, bermain tentu lebih menarik daripada merapikan kamar atau mengerjakan tugas sekolah.
Jika sebuah pekerjaan dianggap membosankan, anak mungkin memilih aktivitas yang lebih menyenangkan terlebih dahulu.
Ini bukan berarti anak harus selalu mengikuti apa yang menyenangkan.
Anak tetap perlu belajar bertanggung jawab, tetapi orang tua dapat membantu membuat prosesnya lebih mudah dimulai.
2. Anak Tidak Tahu Harus Memulai dari Mana
Bayangkan anak mendapatkan beberapa tugas sekaligus.
Ada pekerjaan rumah, buku yang harus dibaca, tas yang perlu disiapkan, dan kamar yang berantakan.
Bagi orang dewasa mungkin terlihat sederhana.
Namun bagi anak, semuanya bisa terasa seperti satu pekerjaan besar.
Akhirnya ia memilih melakukan hal lain.
Bukan karena tidak mau, tetapi karena bingung harus memulai dari mana.
3. Anak Takut Hasilnya Salah
Ada anak yang menunda karena takut melakukan kesalahan.
Misalnya ketika mendapat tugas menggambar.
Daripada mulai menggambar dan merasa hasilnya jelek, anak memilih tidak mengerjakannya.
Dalam kondisi seperti ini, orang tua perlu membantu anak memahami bahwa pekerjaan tidak harus langsung sempurna.
4. Terlalu Banyak Perintah dalam Satu Waktu
"Rapikan kamar, mandi, makan, kemudian belajar."
Bagi orang dewasa, itu mungkin empat instruksi sederhana.
Bagi anak, semuanya bisa terasa terlalu banyak.
Cobalah memberikan satu instruksi terlebih dahulu.
Setelah selesai, lanjutkan ke kegiatan berikutnya.
Cara Membantu Anak Mengurangi Kebiasaan Menunda
1. Berikan Instruksi yang Jelas
Hindari perintah yang terlalu umum.
Daripada mengatakan:
"Ayo bereskan semuanya."
coba:
"Tolong masukkan semua mainan ke dalam kotak."
Instruksi yang lebih spesifik membantu anak memahami apa yang harus dilakukan.
2. Pecah Pekerjaan Menjadi Bagian Kecil
Jika kamar berantakan, jangan langsung meminta anak membersihkan seluruh kamar.
Mulai dari satu bagian.
"Kita rapikan buku dulu."
Setelah buku selesai:
"Sekarang masukkan mobil-mobilan ke kotak."
Pekerjaan besar menjadi terasa lebih ringan ketika dibagi menjadi beberapa langkah.
3. Gunakan Rutinitas yang Konsisten
Anak akan lebih mudah melakukan sesuatu jika waktunya relatif konsisten.
Misalnya:
Setelah bangun: merapikan tempat tidur.
Setelah bermain: merapikan mainan.
Sore hari: menyelesaikan tugas sekolah.
Sebelum tidur: menyiapkan tas.
Dengan rutinitas, anak tidak harus terus-menerus menunggu perintah.
Lama-kelamaan kegiatan tersebut menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
4. Berikan Peringatan Sebelum Pergantian Aktivitas
Ini terutama berguna ketika anak sedang bermain.
Jangan langsung mengatakan:
"Sekarang berhenti!"
Coba berikan tanda sebelumnya.
"Sepuluh menit lagi kita berhenti bermain."
Kemudian:
"Tinggal lima menit."
Cara tersebut memberikan waktu kepada anak untuk mempersiapkan diri.
5. Berikan Pilihan yang Masih Dalam Batas
Misalnya anak harus belajar.
Orang tua dapat mengatakan:
"Mau belajar matematika dulu atau membaca?"
Keduanya tetap merupakan kegiatan belajar.
Anak mendapatkan sedikit ruang untuk memilih tanpa menghilangkan tanggung jawabnya.
6. Gunakan Timer sebagai Pengingat
Timer dapat menjadi alat bantu yang sederhana.
Misalnya orang tua mengatakan:
"Kita rapikan mainan selama lima menit."
Kemudian nyalakan timer.
Tujuannya bukan membuat anak merasa dikejar-kejar, tetapi memberikan batas waktu yang jelas.
Untuk anak kecil, kegiatan ini bahkan bisa dibuat seperti permainan.
7. Jangan Selalu Mengingatkan Berkali-kali
Kalau orang tua mengulang perintah sepuluh kali, anak bisa terbiasa menunggu sampai perintah kesekian sebelum bergerak.
Lebih baik buat aturan yang jelas.
Misalnya:
"Setelah bermain, mainan harus dikembalikan sebelum mengambil permainan berikutnya."
Dengan begitu, anak mulai memahami hubungan antara aktivitas dan tanggung jawab.
Bagaimana Kalau Anak Tetap Tidak Mau?
Jangan langsung menaikkan suara.
Tanyakan terlebih dahulu:
"Apa yang membuat kamu belum mulai?"
Mungkin anak sedang lelah.
Mungkin tugasnya sulit.
Mungkin ia tidak memahami instruksi.
Atau mungkin memang sedang menguji batasan.
Setelah mengetahui alasannya, orang tua bisa menentukan respons yang lebih tepat.
Jika memang hanya tidak ingin mengerjakan, batasan tetap perlu diterapkan.
"Ibu tahu kamu masih ingin bermain. Tapi tugas ini perlu diselesaikan dulu. Setelah selesai, kamu boleh kembali bermain."
Tenang bukan berarti tidak tegas.
Hindari Kebiasaan Membandingkan Anak
Ketika anak lambat mengerjakan sesuatu, mungkin muncul keinginan mengatakan:
"Lihat temanmu, dia sudah selesai."
Sebaiknya hindari kebiasaan tersebut.
Perbandingan dapat membuat anak merasa dirinya kurang mampu.
Lebih baik fokus pada perkembangan dirinya sendiri.
"Kemarin kamu perlu diingatkan tiga kali. Hari ini kamu sudah mulai setelah diingatkan sekali."
Kemajuan kecil tetap merupakan kemajuan.
Ajarkan Anak Membuat Daftar Tugas Sederhana
Untuk anak yang sudah cukup besar, daftar tugas dapat membantu.
Misalnya:
Tugas Sore Ini
☐ Makan
☐ Istirahat
☐ Mengerjakan PR
☐ Merapikan meja belajar
☐ Menyiapkan tas
Anak dapat memberi tanda pada tugas yang sudah selesai.
Kegiatan sederhana ini membantu anak melihat apa yang sudah dilakukan dan apa yang masih perlu dikerjakan.
Jangan Langsung Memberikan Hadiah untuk Semua Hal
Apresiasi boleh diberikan.
Namun, tidak semua tanggung jawab perlu mendapatkan hadiah berupa barang atau uang.
Anak juga perlu memahami bahwa beberapa pekerjaan memang merupakan bagian dari tanggung jawab sehari-hari.
Misalnya:
"Terima kasih sudah merapikan meja tanpa disuruh."
Pujian sederhana sudah cukup untuk menunjukkan bahwa orang tua memperhatikan usahanya.
Orang Tua Juga Perlu Memberikan Contoh
Anak belajar bukan hanya dari nasihat.
Mereka juga memperhatikan kebiasaan orang di sekitarnya.
Jika orang tua sering berkata:
"Nanti saja."
ketika ada pekerjaan rumah, anak bisa melihat bahwa menunda merupakan sesuatu yang biasa.
Tidak berarti orang tua harus selalu sempurna.
Justru, orang tua dapat menunjukkan prosesnya.
Misalnya:
"Ibu sebenarnya ingin istirahat, tapi pekerjaan ini harus selesai dulu. Setelah selesai baru Ibu santai."
Anak melihat secara langsung bagaimana seseorang mengatur tanggung jawab dan keinginan.
Bagaimana Jika Anak Selalu Menunggu Dibantu?
Coba perhatikan apakah tugas tersebut memang sesuai dengan kemampuan anak.
Jika sesuai, berikan kesempatan untuk mencoba.
Misalnya anak berkata:
"Tolong siapkan tas."
Orang tua bisa menjawab:
"Coba kamu masukkan buku yang diperlukan. Kalau ada yang tidak tahu, nanti kita cek bersama."
Dengan cara ini, orang tua tetap mendampingi tetapi tidak mengambil alih seluruh pekerjaan.
Kapan Kebiasaan Menunda Perlu Diperhatikan Lebih Serius?
Menunda sesekali adalah hal yang biasa.
Namun, jika anak terus-menerus mengalami kesulitan memulai atau menyelesaikan kegiatan hingga mengganggu sekolah, rutinitas rumah, tidur, atau aktivitas sehari-hari, orang tua dapat berdiskusi dengan guru.
Dari situ dapat diketahui apakah anak mengalami kesulitan tertentu dalam memahami tugas, mengatur perhatian, mengikuti rutinitas, atau menghadapi tuntutan belajar.
Jika diperlukan, orang tua dapat mencari bantuan profesional yang sesuai.
FAQ
Apakah anak yang suka menunda berarti malas?
Tidak selalu. Kebiasaan menunda dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti tugas yang terasa sulit, kurang memahami instruksi, lelah, takut salah, atau belum memiliki rutinitas yang teratur.
Bagaimana cara membuat anak segera mengerjakan tugas?
Mulailah dengan instruksi yang jelas dan sederhana. Pecah tugas menjadi bagian kecil dan buat rutinitas yang konsisten.
Apakah timer efektif untuk anak?
Timer dapat menjadi alat bantu yang cukup sederhana untuk menunjukkan batas waktu. Gunakan sebagai pengingat, bukan sebagai alat untuk menakut-nakuti anak.
Bolehkah memberikan hadiah ketika anak menyelesaikan tugas?
Boleh memberikan apresiasi. Namun, sebaiknya anak juga belajar bahwa menyelesaikan tanggung jawab merupakan bagian dari kebiasaan sehari-hari, bukan sesuatu yang selalu harus dibayar dengan hadiah.
Bagaimana jika anak tetap menunda meskipun sudah dibuatkan jadwal?
Periksa kembali apakah jadwal terlalu padat atau tugas terlalu sulit. Cobalah mengurangi jumlah target dan mulai dari satu kebiasaan yang paling penting.
Mengajarkan anak untuk tidak selalu menunda bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu malam.
Hari ini mungkin anak masih harus diingatkan.
Besok mungkin ia sudah mulai melakukan satu tugas sendiri.
Minggu berikutnya, bisa jadi ia sudah ingat tanpa diminta.
Perubahan seperti itu memang terlihat kecil, tetapi justru dari kebiasaan kecil tersebut anak belajar mengatur dirinya sendiri.
Orang tua tidak perlu mengejar kesempurnaan.
Mulailah dari satu tugas sederhana. Berikan instruksi yang jelas, buat rutinitas yang masuk akal, dan beri kesempatan kepada anak untuk bertanggung jawab atas pekerjaannya.
Dan ketika anak akhirnya berkata, "Sudah selesai," setelah menyelesaikan tugasnya sendiri, jangan lupa memberikan apresiasi.
Sebab yang sedang dibangun bukan sekadar kebiasaan menyelesaikan pekerjaan.
Anak sedang belajar tentang tanggung jawab, pengaturan waktu, dan kepercayaan terhadap kemampuannya sendiri.
✍️ Tentang Penulis
Tim ZapaEdu merupakan tim kontributor yang berfokus pada informasi pendidikan, perangkat ajar PAUD, SD, SMP, dan SMA, Kurikulum Merdeka, administrasi sekolah, serta berbagai kebijakan pendidikan terbaru.
Artikel di ZapaEdu disusun berdasarkan referensi resmi, praktik baik pendidikan, serta perkembangan kebijakan terkini untuk membantu guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, dan pemerhati pendidikan di Indonesia.
0 Response to "Anak Sering Menunda-nunda? Ini Cara Mengajarkan Anak Menyelesaikan Tugas Tanpa Dipaksa"
Post a Comment