Anak Mudah Menyerah Saat Belajar? Ini Cara Membantu Anak Lebih Gigih
"Ah, aku nggak bisa!"
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi orang tua, rasanya cukup mengkhawatirkan ketika anak mengucapkannya setiap kali menemukan soal atau tugas yang sedikit lebih sulit.
Baru mencoba sebentar, sudah menyerah.
Salah menulis satu kata, pensil langsung diletakkan.
Tidak bisa menyusun sebuah permainan, anak langsung meminta bantuan.
Dalam situasi seperti ini, orang tua mungkin tergoda untuk mengatakan, "Makanya jangan malas belajar."
Padahal, belum tentu anak sedang malas.
Bisa jadi ia sedang kesulitan menghadapi rasa kecewa karena hasil yang diharapkan tidak langsung muncul.
Anak memang perlu belajar menyelesaikan sesuatu. Tetapi kemampuan untuk bertahan ketika menghadapi kesulitan juga perlu dilatih secara perlahan.
Kabar baiknya, kebiasaan tersebut bisa dibangun dari kegiatan sederhana di rumah.
Mengapa Anak Cepat Menyerah?
Setiap anak tentu berbeda. Ada yang mudah mencoba lagi, ada pula yang langsung kehilangan semangat ketika mengalami kegagalan.
Beberapa hal berikut bisa menjadi penyebabnya.
1. Anak Takut Salah
Sebagian anak merasa harus selalu memberikan jawaban yang benar.
Ketika salah, mereka menganggap dirinya tidak mampu.
Padahal, kesalahan merupakan bagian yang wajar dalam proses belajar.
Jika anak terbiasa mendapatkan respons negatif setiap kali salah, ia bisa menjadi semakin takut mencoba.
2. Tugas Terasa Terlalu Sulit
Coba bayangkan seseorang diminta mengerjakan sesuatu yang jauh di atas kemampuannya.
Kemungkinan besar ia juga akan merasa frustrasi.
Hal yang sama bisa terjadi pada anak.
Jika tugas terlalu sulit, anak mungkin memilih berhenti daripada terus merasa gagal.
Karena itu, berikan tantangan yang cukup untuk membuat anak belajar, tetapi tetap masuk akal untuk kemampuannya.
3. Anak Terbiasa Mendapat Bantuan Terlalu Cepat
Ketika anak berkata, "Aku nggak bisa," tangan orang tua mungkin langsung bergerak membantu.
Niatnya tentu baik.
Namun jika selalu dilakukan, anak bisa belajar bahwa ketika menghadapi kesulitan, solusi tercepat adalah meminta orang lain menyelesaikannya.
Bukan berarti anak harus dibiarkan kesulitan sendirian.
Berikan bantuan seperlunya sambil tetap memberinya kesempatan mencoba.
4. Anak Sering Dibandingkan
"Temanmu sudah bisa."
"Kakakmu dulu cepat sekali belajarnya."
Kalimat seperti ini mungkin dimaksudkan untuk memotivasi, tetapi justru dapat membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik.
Anak akhirnya lebih sibuk memikirkan perbandingan daripada fokus memperbaiki kemampuannya sendiri.
Bagaimana Membantu Anak Agar Tidak Mudah Menyerah?
Tidak perlu membuat program belajar yang rumit. Perubahan kecil dalam cara orang tua mendampingi anak sudah bisa memberikan perbedaan.
1. Ubah Kalimat "Aku Tidak Bisa"
Ketika anak mengatakan:
"Aku nggak bisa."
Jangan buru-buru menjawab:
"Bisa kok!"
Coba ubah menjadi:
"Belum bisa. Kita coba pelan-pelan."
Kata "belum" memberikan pesan bahwa kemampuan tersebut masih dalam proses.
Anak tidak sedang diberi tahu bahwa ia gagal. Ia sedang belajar bahwa sesuatu yang sulit hari ini mungkin bisa dilakukan setelah berlatih.
2. Puji Usahanya, Bukan Hanya Hasilnya
Misalnya anak mengerjakan soal matematika dan jawabannya masih salah.
Daripada hanya berkata:
"Jawabannya salah."
Coba perhatikan prosesnya.
"Kamu tadi sudah mencoba menghitung sendiri. Sekarang kita lihat bagian mana yang membuat bingung."
Anak jadi memahami bahwa usaha mereka tetap memiliki nilai meskipun hasilnya belum sempurna.
3. Pecah Tugas Menjadi Bagian Kecil
Tugas yang terlihat panjang sering membuat anak langsung kehilangan semangat.
Misalnya ada sepuluh soal.
Daripada mengatakan:
"Kerjakan semuanya."
coba mulai dari:
"Kita kerjakan tiga soal dulu."
Setelah selesai, berikan waktu untuk beristirahat.
Cara seperti ini membuat tugas terasa lebih ringan.
4. Berikan Waktu untuk Mencoba
Ketika anak mengalami kesulitan, jangan langsung memberikan jawaban.
Tanyakan:
"Menurutmu, bagian mana yang harus dicoba dulu?"
Atau:
"Kalau cara pertama belum berhasil, kira-kira kita bisa mencoba cara apa?"
Pertanyaan semacam ini membantu anak belajar mencari solusi, bukan hanya menunggu jawaban dari orang tua.
5. Ceritakan Bahwa Orang Dewasa Juga Pernah Kesulitan
Anak kadang mengira orang dewasa selalu bisa melakukan segala sesuatu.
Orang tua dapat menceritakan pengalaman sederhana.
Misalnya:
"Dulu Ayah juga pernah kesulitan belajar naik sepeda. Beberapa kali jatuh, tapi akhirnya bisa."
Tidak perlu membuat cerita yang berlebihan.
Pesannya sederhana: kemampuan biasanya berkembang melalui latihan.
6. Jangan Terburu-buru Memperbaiki Semua Kesalahan
Tulisan anak mungkin belum rapi.
Gambarnya mungkin tidak seperti yang diharapkan.
Susunan mainannya mungkin masih berantakan.
Tidak semuanya perlu langsung diperbaiki.
Jika anak sedang belajar, berikan kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Setelah itu, barulah berikan masukan jika memang diperlukan.
7. Ajarkan Anak Beristirahat
Gigih bukan berarti harus terus bekerja tanpa berhenti.
Anak juga membutuhkan waktu istirahat.
Jika mulai terlihat lelah, sulit berkonsentrasi, atau semakin mudah marah, mungkin memang sudah waktunya berhenti sejenak.
Setelah tubuh dan pikiran lebih siap, anak dapat kembali mencoba.
Contoh Kalimat yang Bisa Digunakan Orang Tua
Berikut beberapa kalimat sederhana yang dapat menggantikan respons yang terlalu cepat.
Ketika anak berkata "Aku tidak bisa":
"Belum bisa. Kita cari tahu bagian yang sulit."
Ketika anak ingin berhenti:
"Boleh istirahat sebentar. Setelah itu kita coba lagi."
Ketika anak salah:
"Tidak apa-apa. Kita lihat lagi langkahnya."
Ketika anak mulai kesal:
"Ibu tahu ini memang sulit. Tarik napas dulu, lalu kita coba perlahan."
Ketika anak berhasil setelah beberapa kali mencoba:
"Tadi kamu sempat kesulitan, tapi kamu mau mencoba lagi."
Kalimat-kalimat sederhana seperti ini membantu menciptakan suasana belajar yang lebih aman bagi anak.
Jangan Menjadikan Semua Hal sebagai Perlombaan
Anak tidak harus selalu menjadi yang paling cepat menyelesaikan tugas.
Ada anak yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami sesuatu. Ada pula yang cepat memahami satu hal tetapi membutuhkan waktu lebih lama pada hal lainnya.
Fokuskan perhatian pada perkembangan anak dibandingkan pencapaiannya dibandingkan dengan teman.
Pertanyaan yang lebih berguna bukan:
"Apakah kamu sudah lebih hebat dari temanmu?"
melainkan:
"Apakah hari ini kamu sudah sedikit lebih baik daripada kemarin?"
Bagaimana Jika Anak Menangis Saat Tidak Bisa?
Menangis bukan berarti anak gagal.
Bisa jadi ia sedang kecewa, lelah, atau merasa frustrasi.
Jangan buru-buru mengatakan:
"Jangan menangis!"
Berikan waktu untuk menenangkan diri.
Setelah suasananya lebih tenang, bantu anak membicarakan apa yang membuatnya kesulitan.
Misalnya:
"Tadi bagian mana yang paling membuat kamu kesal?"
Dari percakapan tersebut, orang tua dapat mengetahui apakah masalahnya karena tugas terlalu sulit, anak belum memahami instruksi, atau ada hal lain yang membuatnya tidak nyaman.
Permainan di Rumah Juga Bisa Melatih Kegigihan
Latihan tidak harus selalu berbentuk kegiatan belajar di meja.
Permainan sederhana juga dapat mengajarkan anak untuk mencoba kembali.
Misalnya:
menyusun puzzle,
membuat bangunan dari balok,
bermain permainan papan sederhana,
menggambar,
membuat prakarya,
atau mencoba permainan yang membutuhkan beberapa kali percobaan.
Ketika gagal, beri kesempatan anak menentukan apakah ia ingin mencoba strategi lain.
Di sinilah anak belajar bahwa gagal dalam satu percobaan bukan berarti harus berhenti selamanya.
Kapan Orang Tua Perlu Mencari Bantuan?
Jika anak hampir selalu menolak kegiatan belajar, mengalami kesulitan yang menetap, sangat tertekan ketika mengerjakan tugas, atau masalah tersebut mulai mengganggu kegiatan sekolah dan kehidupan sehari-hari, orang tua dapat berdiskusi dengan guru.
Guru dapat membantu melihat kondisi anak dalam lingkungan belajar.
Jika diperlukan, orang tua juga dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional yang sesuai.
Tujuannya bukan untuk memberi label kepada anak, melainkan mencari tahu dukungan apa yang paling dibutuhkan.
FAQ
Apakah anak yang mudah menyerah berarti malas?
Tidak selalu. Anak bisa menyerah karena tugas terasa terlalu sulit, takut salah, lelah, kurang percaya diri, atau belum tahu bagaimana menghadapi kesulitan.
Haruskah orang tua membiarkan anak kesulitan sendiri?
Tidak. Anak tetap membutuhkan pendampingan. Bedanya, orang tua sebaiknya membantu secukupnya tanpa langsung mengambil alih seluruh tugas.
Apa yang harus dikatakan ketika anak berkata "Aku tidak bisa"?
Cobalah mengatakan, "Belum bisa. Kita coba satu bagian dulu." Kalimat tersebut membantu anak melihat bahwa kemampuan masih dapat berkembang.
Bagaimana kalau anak tetap ingin berhenti?
Berikan kesempatan untuk beristirahat jika memang sudah lelah. Setelah itu, ajak anak menentukan langkah kecil yang bisa dicoba kembali.
Apakah memuji anak bisa membuatnya manja?
Pujian yang tepat bukan sekadar mengatakan "kamu hebat", tetapi memberikan apresiasi terhadap usaha dan prosesnya. Misalnya, "Kamu tadi mau mencoba lagi meskipun soal ini sulit."
Anak yang mudah menyerah bukan berarti anak yang tidak memiliki kemampuan.
Mungkin ia hanya belum menemukan cara yang tepat untuk menghadapi rasa sulit, kecewa, atau takut salah.
Orang tua tidak harus membuat anak selalu berhasil.
Yang lebih penting adalah membantu anak memahami bahwa kesulitan bukan tanda bahwa ia harus berhenti.
Berikan kesempatan untuk mencoba. Bantu ketika diperlukan. Berikan waktu untuk beristirahat. Dan hargai setiap kemajuan kecil yang dibuatnya.
Mungkin hari ini anak hanya mau mencoba satu kali lagi.
Besok mungkin dua kali.
Dari percobaan-percobaan kecil itulah ketekunan mulai tumbuh.
Dan ketika suatu hari anak menghadapi sesuatu yang sulit tanpa langsung berkata "aku tidak bisa", orang tua akan melihat bahwa proses kecil yang selama ini dilakukan ternyata mulai memberikan hasil.
✍️ Tentang Penulis
Tim ZapaEdu merupakan tim kontributor yang berfokus pada informasi pendidikan, perangkat ajar PAUD, SD, SMP, dan SMA, Kurikulum Merdeka, administrasi sekolah, serta berbagai kebijakan pendidikan terbaru.
Artikel di ZapaEdu disusun berdasarkan referensi resmi, praktik baik pendidikan, serta perkembangan kebijakan terkini untuk membantu guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, dan pemerhati pendidikan di Indonesia.
0 Response to "Anak Mudah Menyerah Saat Belajar? Ini Cara Membantu Anak Lebih Gigih"
Post a Comment