Mengapa Anak Sering Bilang "Tidak Tahu" Saat Ditanya? Ini Maknanya
Sore itu anak saya pulang sekolah dengan langkah yang lebih pelan dari biasanya. Tasnya diseret, bukan digendong. Wajahnya murung, matanya menatap lantai lebih lama dari biasanya.
Saya coba menyapa seperti biasa. "Ada apa, sayang?"
"Tidak tahu," jawabnya pelan.
Saya kira dia cuma capek, jadi saya tanya lagi, "Di sekolah ada yang tidak beres?"
Jawabannya masih sama. "Tidak tahu."
Saat itu saya merasa mentok. Sebagai orang tua, rasanya ingin sekali membantu, tapi anak saya seperti menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Butuh waktu cukup lama—dan beberapa kali momen serupa yang berulang—sebelum saya akhirnya sadar satu hal penting: "tidak tahu" itu jarang berarti anak benar-benar tidak tahu. Lebih sering, itu adalah cara mereka mengatakan sesuatu yang belum punya kata untuk diucapkan.
Apa yang Sebenarnya Ingin Dikatakan Anak?
Kita sering lupa bahwa anak-anak, apalagi yang masih duduk di bangku SD, belum punya "kamus emosi" selengkap orang dewasa. Saat mereka merasa sedih, bingung, malu, kecewa, atau bahkan merasa bersalah, banyak dari mereka memang betul-betul tidak tahu harus menyebut perasaan itu dengan kata apa.
Bayangkan diminta menjelaskan sesuatu yang rumit dalam bahasa asing yang baru sedikit dikuasai. Itulah kira-kira yang dialami anak ketika ditanya soal perasaannya. Maka "tidak tahu" pun menjadi jawaban paling aman—bukan karena malas, tapi karena memang belum ada kosakata yang pas.
Selain soal keterbatasan kosakata, ada beberapa alasan lain yang sering melatarbelakangi jawaban itu:
- Takut dimarahi kalau menjawab jujur
- Malu mengakui perasaannya sendiri
- Sedang lelah dan belum siap diajak bicara
- Tidak ingin membuat orang tuanya ikut khawatir
- Merasa apa yang dialaminya tidak cukup penting untuk diceritakan
- Belum sepenuhnya memahami apa yang sebenarnya ia rasakan
Menariknya, alasan-alasan ini bisa datang bersamaan. Anak bisa saja bingung sekaligus takut, atau lelah sekaligus tidak enak hati membebani orang tuanya.
Kesalahan yang Dulu Sering Saya Lakukan
Saya mengaku saja: dulu, setiap kali anak saya menjawab "tidak tahu", refleks saya adalah mengejar dengan pertanyaan lain, kadang dengan nada yang meninggi.
"Kok tidak tahu sih?" "Kamu pasti tahu, coba cerita dong." "Kalau tidak cerita, nanti Mama marah, lho."
Belakangan baru saya sadar, cara itu justru berbalik arah dari yang saya inginkan. Bukannya membuka diri, anak saya makin menutup diri. Tekanan seperti itu membuatnya merasa tidak aman untuk bicara—karena yang ia tangkap bukan perhatian, melainkan interogasi.
Sejak itu saya perlahan mengubah pendekatan. Saya berhenti menuntut jawaban instan dan mulai belajar memberi ruang, meski kadang itu berarti menahan rasa ingin tahu saya sendiri.
Cara Merespons "Tidak Tahu" dengan Lebih Baik
Berikut beberapa cara yang saya coba terapkan, dan lumayan berhasil membuat anak saya perlahan mau bercerita.
1. Terima jawabannya tanpa membuat anak merasa bersalah
Alih-alih memaksa, saya mulai mengatakan, "Oke, tidak apa-apa kalau belum bisa cerita sekarang."
Kalimat sesederhana itu ternyata cukup berarti. Anak merasa diberi izin untuk merasa apa adanya, tanpa embel-embel harus segera menjelaskan. Ia tidak merasa gagal hanya karena belum bisa menjawab.
2. Tunggu di sampingnya, jangan buru-buru pergi
Anak sering butuh waktu untuk memproses apa yang ia rasakan. Duduk saja di dekatnya. Lakukan aktivitas ringan bersama, tanpa memaksa pembicaraan harus segera terjadi.
Saya ingat pernah menunggu hampir setengah jam sambil mengupas jeruk berdua, tanpa banyak bicara. Anehnya, setelah jeruk itu habis, anak saya justru mulai bercerita sendiri, tanpa saya tanya lagi.
3. Ganti pertanyaan besar dengan pertanyaan kecil
Pertanyaan seperti "Hari ini gimana?" sebenarnya terlalu luas untuk dijawab, apalagi oleh anak yang sedang bingung dengan perasaannya sendiri. Saya mulai mengganti dengan pertanyaan yang lebih spesifik, misalnya:
- "Apa pelajaran yang paling susah hari ini?"
- "Tadi istirahat duduk sama siapa?"
- "Guru yang terakhir kamu temui siapa, ya?"
Pertanyaan-pertanyaan kecil semacam ini lebih mudah dijawab, dan sering kali menjadi pintu masuk yang membuat anak akhirnya mau bercerita sedikit demi sedikit.
4. Bagikan juga pengalaman Anda sendiri
Anak akan merasa lebih aman ketika melihat orang tuanya juga menunjukkan sisi rentan. Saya pernah bilang, "Waktu Mama masih kecil, Mama juga sering bilang 'tidak tahu' kalau lagi sedih, soalnya bingung mau ngomong apa."
Cara ini secara tidak langsung mengajarkan bahwa punya perasaan yang sulit dijelaskan itu wajar, bukan sesuatu yang aneh atau memalukan.
5. Tawarkan cara bercerita yang berbeda-beda
Tidak semua anak nyaman bercerita sambil berhadapan langsung dengan orang tuanya. Beberapa cara lain yang bisa dicoba:
- Menggambar apa yang sedang dirasakan
- Menulis di buku harian
- Mengobrol sambil berjalan-jalan santai
- Bicara sebelum tidur, dalam suasana yang lebih gelap dan tenang
Suasana yang berbeda sering membuat anak yang tadinya canggung jadi lebih rileks untuk bercerita.
6. Tahan diri untuk tidak langsung memberi solusi
Ini bagian yang paling sulit buat saya pribadi. Begitu anak akhirnya mau cerita, naluri saya langsung ingin memperbaiki keadaan.
"Kamu harus begini..." "Besok bilang saja sama gurumu..."
Padahal, di banyak momen, anak sebenarnya hanya butuh didengarkan dulu. Solusi bisa menyusul belakangan, setelah ia merasa perasaannya benar-benar dipahami, bukan langsung diberi "resep" penyelesaian.
Kapan Perlu Waspada dan Mencari Bantuan Tambahan
Sebagian besar jawaban "tidak tahu" hanyalah fase yang wajar dalam tumbuh kembang anak. Tapi ada beberapa tanda yang sebaiknya tidak dianggap remeh, misalnya:
- Perubahan pola makan atau tidur yang cukup drastis
- Menarik diri dari teman-teman maupun keluarga
- Menangis tanpa sebab yang jelas
- Prestasi sekolah yang menurun secara tiba-tiba
- Ucapan tentang ingin menghilang atau menolak sekolah sama sekali
Kalau tanda-tanda semacam ini mulai muncul, sebaiknya jangan ditangani sendirian. Ini saat yang tepat untuk melibatkan konselor sekolah atau psikolog anak, supaya penanganannya lebih tepat.
Jawaban "tidak tahu" bisa terasa seperti pintu yang tertutup rapat. Tapi kalau dilihat lebih dekat, sebenarnya itu juga bisa menjadi undangan—undangan bagi kita untuk lebih sabar dan mau mendengarkan dengan cara yang berbeda.
Anak tidak selalu butuh jawaban cepat atau solusi instan. Yang sering mereka butuhkan justru orang tua yang tidak buru-buru menghakimi, yang mau menunggu tanpa terburu-buru, dan yang percaya bahwa suatu hari nanti mereka akan siap bercerita dengan caranya sendiri.
Karena pada akhirnya, yang paling menolong bukan selalu pertanyaan yang kita lontarkan, melainkan kehadiran kita yang tulus di samping mereka.
Baca juga:
Belum ada Komentar untuk "Mengapa Anak Sering Bilang "Tidak Tahu" Saat Ditanya? Ini Maknanya"
Posting Komentar