Anak Tidak Suka Membaca? 9 Cara Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini

9 Cara Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini

 "Sudah dibelikan banyak buku, tapi anak saya tetap tidak mau membaca."

Kalimat seperti itu cukup sering kita dengar dari orang tua. Buku cerita sudah tersedia di rumah, bahkan ada yang sengaja membuat rak buku kecil di kamar anak. Namun ketika diajak membaca, anak malah memilih bermain, menonton, atau melakukan kegiatan lainnya.

Kalau mengalami hal yang sama, orang tua tidak perlu langsung menganggap anak malas.

Bisa jadi masalahnya bukan pada anak, tetapi pada cara membaca diperkenalkan kepadanya.

Bagi sebagian anak, buku memang belum terasa menarik. Apalagi jika setiap kali membuka buku mereka langsung diminta mengeja, membaca keras-keras, atau menjawab pertanyaan.

Padahal, mengenalkan buku kepada anak seharusnya bisa dimulai dengan cara yang jauh lebih santai.

Membaca cerita sebelum tidur, melihat gambar bersama, atau membiarkan anak memilih buku kesukaannya juga merupakan bagian dari proses menumbuhkan minat baca.

Apa yang Dimaksud dengan Minat Baca Anak?

Minat baca tidak selalu berarti anak sudah mampu membaca sendiri.

Anak yang belum bisa membaca tetapi senang melihat buku, meminta orang tua membacakan cerita, atau bertanya tentang gambar di dalam buku sebenarnya sudah menunjukkan ketertarikan terhadap kegiatan literasi.

Misalnya, seorang anak mungkin belum bisa membaca tulisan "kucing", tetapi ia tahu gambar kucing dan tertarik mendengarkan cerita tentang kucing tersebut.

Dari sinilah kebiasaan membaca mulai terbentuk.

Jadi, orang tua tidak perlu menunggu anak lancar membaca untuk mulai mengenalkan buku.

Mengapa Ada Anak yang Tidak Suka Membaca?

Setiap anak tentu memiliki alasan yang berbeda. Karena itu, sebelum mencari cara mengatasinya, ada baiknya orang tua mencoba memahami penyebabnya.

1. Buku yang diberikan tidak sesuai dengan minat anak

Anak yang sangat menyukai kendaraan mungkin akan lebih tertarik dengan buku tentang mobil, kereta, pesawat, atau kendaraan lainnya.

Begitu juga anak yang menyukai hewan kemungkinan lebih tertarik dengan cerita tentang kucing, dinosaurus, ikan, atau kehidupan di kebun binatang.

Jadi, tidak ada salahnya membiarkan anak memilih sendiri tema buku yang ingin dibaca.

2. Membaca selalu dianggap sebagai tugas

Ini salah satu hal yang sering tidak disadari.

Jika setiap kali anak membuka buku ia langsung diminta membaca, mengeja, kemudian mengerjakan soal, lama-kelamaan buku bisa dianggap sebagai sesuatu yang melelahkan.

Sesekali, bacalah buku tanpa memberikan tugas apa pun.

Nikmati ceritanya saja.

3. Anak takut melakukan kesalahan

Anak yang pernah sering dimarahi karena salah membaca bisa menjadi ragu untuk mencoba lagi.

Ketika anak salah mengucapkan sebuah kata, tidak perlu langsung mengatakan, "Salah!"

Lebih baik bantu mengucapkannya dengan santai, kemudian lanjutkan cerita.

4. Anak belum menemukan buku yang cocok

Tidak semua anak langsung menyukai buku cerita yang sama.

Ada yang menyukai cerita pendek, ada yang tertarik pada buku bergambar, sementara anak lainnya lebih suka ensiklopedia sederhana atau buku aktivitas.

Mencari buku yang cocok memang membutuhkan sedikit percobaan.

9 Cara Menumbuhkan Minat Baca Anak

1. Biarkan Anak Memilih Buku Sendiri

Cobalah membawa anak ke toko buku atau perpustakaan dan biarkan ia memilih.

Tidak masalah jika buku pilihannya bukan buku yang menurut orang tua paling "mendidik".

Jika anak memilih buku tentang dinosaurus karena ia menyukainya, justru itu bisa menjadi pintu masuk menuju kebiasaan membaca.

Setelah anak mulai menikmati buku, orang tua bisa perlahan memperkenalkan tema lainnya.

2. Tidak Perlu Membaca Terlalu Lama

Anak kecil belum tentu mampu duduk diam membaca dalam waktu yang panjang.

Tidak perlu memaksanya.

Lima sampai lima belas menit membaca bersama sudah dapat menjadi awal yang baik. Jika anak masih ingin melanjutkan, silakan diteruskan.

Yang perlu dibangun terlebih dahulu adalah kebiasaan dan rasa senang terhadap buku.

3. Jadikan Membaca sebagai Waktu Bersama

Daripada berkata,

"Ayo membaca!"

dengan nada seperti memberikan tugas, cobalah menjadikannya kegiatan keluarga.

Misalnya setelah makan malam, orang tua dan anak duduk bersama kemudian memilih satu buku untuk dibaca.

Tidak harus selalu serius.

Boleh tertawa, bertanya, atau membicarakan gambar yang ada di halaman buku.

4. Jangan Hanya Membaca Tulisan

Buku bergambar sebenarnya sangat berguna untuk anak.

Ketika melihat gambar, tanyakan hal sederhana.

"Menurut kamu, kenapa anak ini menangis?"

"Ini hewan apa?"

"Kalau kamu ada di tempat itu, kira-kira mau melakukan apa?"

Percakapan seperti ini membuat anak aktif berpikir dan tidak sekadar mendengarkan.

5. Buat Cerita Menjadi Lebih Hidup

Saat membacakan cerita, orang tua tidak perlu menggunakan suara yang sama dari awal sampai akhir.

Cobalah menggunakan ekspresi sesuai karakter dalam cerita.

Ketika tokohnya sedang takut, gunakan suara yang lebih pelan. Ketika tokohnya sedang gembira, gunakan ekspresi yang lebih ceria.

Anak biasanya akan lebih tertarik ketika cerita terasa seperti sebuah pengalaman, bukan sekadar membaca tulisan.

6. Hubungkan Isi Buku dengan Kehidupan Sehari-hari

Misalnya sedang membaca buku tentang tanaman.

Setelah selesai, ajak anak melihat tanaman di halaman rumah.

"Di buku tadi tanaman juga membutuhkan air. Tanaman kita juga perlu disiram, ya?"

Dengan cara seperti ini, anak mulai memahami bahwa apa yang dibaca di buku ternyata berhubungan dengan kehidupan mereka.

7. Jangan Memaksa Menyelesaikan Buku

Kalau anak sudah mulai bosan, tidak perlu dipaksa sampai halaman terakhir.

Buku bisa dilanjutkan besok.

Tujuan utama bukan membuat anak menyelesaikan sebanyak mungkin buku, melainkan membuat mereka merasa nyaman ketika berinteraksi dengan buku.

8. Orang Tua Juga Perlu Memberikan Contoh

Anak memperhatikan kebiasaan orang di rumah.

Jika orang tua selalu memegang ponsel ketika sedang santai, tetapi meminta anak membaca buku, tentu akan lebih sulit memberikan contoh.

Tidak perlu membuat aturan yang rumit.

Cukup luangkan waktu tertentu untuk membaca bersama.

Anak melihat orang tuanya membaca, kemudian perlahan memahami bahwa membaca merupakan bagian dari aktivitas sehari-hari.

9. Hargai Usaha Anak

Jangan hanya memberikan pujian ketika anak sudah membaca dengan lancar.

Ketika anak mau mencoba membaca satu kata yang sulit, berikan apresiasi.

Misalnya:

"Tadi kata itu agak sulit, tapi kamu mau mencoba lagi."

Pujian seperti ini membuat anak memahami bahwa usahanya dihargai.

Bagaimana Kalau Anak Belum Lancar Membaca?

Jangan langsung menyebut anak malas.

Kemampuan setiap anak berkembang melalui proses yang berbeda. Jika anak masih kesulitan, orang tua dapat memberikan pengalaman membaca yang sederhana dan menyenangkan.

Misalnya dengan:

  • membacakan cerita setiap hari,
  • bermain mengenali huruf,
  • mengajak anak mencari huruf tertentu di buku,
  • bermain tebak kata,
  • meminta anak menceritakan gambar,
  • atau membaca tulisan sederhana yang ditemui sehari-hari.

Kalau kesulitan membaca terus berlangsung dan mulai mengganggu kegiatan belajar, orang tua dapat berdiskusi dengan guru untuk mengetahui kondisi anak dan dukungan yang mungkin diperlukan.

Tidak Harus Selalu Menggunakan Buku Cerita

Membangun kebiasaan literasi sebenarnya bisa dilakukan di mana saja.

Ketika pergi ke supermarket, misalnya, orang tua bisa mengajak anak membaca nama produk.

Saat berjalan-jalan, anak bisa diajak mengenali tulisan pada papan nama.

Di rumah, anak dapat membantu membuat daftar belanja sederhana.

Kegiatan-kegiatan kecil seperti itu membuat anak memahami bahwa membaca bukan hanya kegiatan yang dilakukan ketika sedang belajar.

Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari Orang Tua

Ada beberapa hal yang justru bisa membuat anak semakin tidak tertarik membaca.

Membandingkan dengan anak lain

"Temanmu sudah lancar membaca, kenapa kamu belum?"

Kalimat seperti ini tidak membantu anak menjadi lebih percaya diri.

Memaksa ketika anak sedang lelah

Kalau anak sudah mengantuk atau terlalu lelah setelah beraktivitas, membaca mungkin tidak akan menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Terlalu sering mengatakan "salah"

Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk mencoba.

Kesalahan adalah bagian dari belajar.

Menjadikan membaca sebagai hukuman

Sebisa mungkin jangan menggunakan buku sebagai hukuman karena anak bisa menganggap membaca sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan.

Kapan Waktu yang Bagus untuk Membaca Bersama Anak?

Tidak ada satu waktu yang wajib digunakan semua keluarga.

Beberapa orang tua memilih membaca sebelum tidur. Ada pula yang melakukannya setelah makan malam atau pada akhir pekan.

Yang penting adalah menemukan waktu yang realistis dan bisa dilakukan secara rutin.

Lebih baik membaca sebentar tetapi dilakukan dengan senang hati daripada membaca lama tetapi penuh tekanan.

FAQ

Apakah anak yang belum bisa membaca tetap perlu dibacakan buku?

Ya. Orang tua dapat membacakan buku sambil mengajak anak melihat gambar dan membicarakan ceritanya. Anak tidak harus sudah bisa membaca untuk menikmati buku.

Berapa lama anak sebaiknya membaca setiap hari?

Tidak ada durasi yang harus dipaksakan kepada semua anak. Mulailah dari waktu yang nyaman bagi anak dan tingkatkan secara bertahap apabila anak sudah menikmati kegiatan tersebut.

Bagaimana kalau anak selalu menolak ketika diajak membaca?

Jangan langsung memaksa. Coba cari tahu buku atau tema yang menarik baginya. Bisa juga mengubah cara membaca menjadi permainan atau aktivitas bersama.

Apakah buku bergambar bagus untuk anak?

Tentu. Buku bergambar dapat menjadi media untuk mengenalkan cerita, kosakata, dan percakapan kepada anak.

Bagaimana jika anak mengalami kesulitan membaca?

Orang tua dapat memberikan pendampingan dan berdiskusi dengan guru. Jika kesulitan berlangsung terus-menerus, evaluasi lebih lanjut mungkin diperlukan agar anak mendapatkan dukungan yang sesuai.

Menumbuhkan minat baca anak tidak bisa dilakukan dalam satu atau dua hari.

Mungkin hari ini anak hanya mau melihat gambar. Besok ia meminta satu cerita dibacakan. Beberapa minggu kemudian, ia mulai mengenali beberapa kata.

Semua itu merupakan bagian dari proses.

Karena itu, jangan terlalu fokus pada seberapa banyak halaman yang sudah dibaca anak. Lebih penting memastikan bahwa anak memiliki pengalaman yang menyenangkan bersama buku.

Mulailah dari buku yang disukainya, bacakan cerita dengan santai, dengarkan pertanyaannya, dan berikan kesempatan untuk memilih.

Dari kebiasaan kecil seperti itulah, rasa suka terhadap membaca bisa tumbuh secara perlahan.

✍️ Tentang Penulis

Tim ZapaEdu merupakan tim kontributor yang berfokus pada informasi pendidikan, perangkat ajar PAUD, SD, SMP, dan SMA, Kurikulum Merdeka, administrasi sekolah, serta berbagai kebijakan pendidikan terbaru.

Artikel di ZapaEdu disusun berdasarkan referensi resmi, praktik baik pendidikan, serta perkembangan kebijakan terkini untuk membantu guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, dan pemerhati pendidikan di Indonesia.

Selengkapnya tentang Tim ZapaEdu →

0 Response to "Anak Tidak Suka Membaca? 9 Cara Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel